Barca dan MU dalam Kesamaan Dimensi Waktu

Dunia Bola Amir Machmud —Rabu, 24 Nov 2021 09:39
    Bagikan  
Barca dan MU dalam Kesamaan Dimensi Waktu
Barca dan MU dalam Kesamaan Dimensi Waktu/ Pinterest

MATAJATENG

Oleh: Amir Machmud NS

DALAM waktu yang hampir bersamaan, dua klub penuh tradisi prestasi dunia menjalani “lakon” dengan skenario yang tak jauh berbeda.
Barcelona mendatangkan Xavi Hernandez, legenda yang sukses mengarsiteki Al Sadd, klub Liga Qatar. Xavi didapuk menggantikan Ronald Koeman yang diberhentikan karena hasil-hasil buruk dalam perjalanan kompetisi musim ini.

Di Liga Primer, Manchester United akhirnya memecat Ole Gunnar Solskjaer, manajer yang juga legenda klub.

Di tangan Solskjaer, MU menjalani musim yang kurang meyakinkan, bahkan memalukan. Kalah 0-1 dari Aston Villa, 0-5 dari Liverpool, dan 0-2 dari Manchester United di Old Trafford menjadi rangkaian performa yang memprihatinkan.

Kekalahan 1-4 dari Watford melengkapi kecompangcampingan penampilan Harry Maguire dkk. Hasil-hasil dalam tiga pekan terakhir itu menjadi pertimbangan manajemen untuk tidak lagi mempertahankan Solakjaer.


Potensi Lokal

Koeman dan Solskjaer adalah “potensi-potensi lokal” di klub yang mereka tangani. Ronald Koeman, legenda Barca asal Belanda, cukup memberi warna sebagai pemain pilar ketika Blaugrana diarsiteki sang maestro Johan Cruyff pada dasawarsa 1990-an.

Dialah pencetak gol tunggal Barcelona ke gawang Sampdoria dalam final Liga Champions (dulu masih berlabel Piala Champions) 1992. Koeman adalah salah satu sumber inspirasi, yang walaupun berbasis pemain bertahan namun berkapasitas sebagai bek produktif dengan tembakan-tembakan geledek.

Sama seperti Koeman, peran kunci di final Eropa juga dicatat Ole Gunnar Solskjaer. Dalam drama “Keajaiban Camp Nou” 1999, dia mencetak dua gol bersama Teddy Sheringham, yang membalik ketertinggalan menjadi kemenangan 2-1 atas Bayern Muenchen. Gol Solskjaer dikenang sebagai momen istimewa, karena “membunuh” Muenchen pada detik-detik akhir pertandingan.

Baca juga: Food Recipes: How To Make Baked Custard Pudding Easily

Baca juga: Kota Semarang Tekan Kematian Ibu dan Stunting

Koeman dan Solskjaer menjadi “potensi lokal” klub yang coba dieksplorasi untuk tidak mendatangkan pelatih dari luar keluarga besar Barcelona.
Namun, setelah sama-sama sempat memberi harapan pada awal kiprah, akhirnya mereka menyerah pada kenyataan tidak mampu membentuk tim untuk bersaing di level kompetitif. Setidak-tidaknya untuk saat sekarang.

Pemberhentian adalah sinyal akhir dari kesabaran manajemen menunggu perubahan produk kinerja mereka.


Identitas Tim

Masalah prinsip yang dihadapi oleh Ronald Koeman dan Ole Gunnar Solskjaer adalah kegagalan membentuk identitas tim.

Barca dan MU punya karakter dan gaya bermain yang selama ini menjadi kekuatan tim. Padahal dari sisi kedalaman skuad, seharusnya tidak ada persoalan. Keduanya punya materi pemain yang cukup kompetitif.

Sebelum ini, dalam dua musim terakhir, MU mampu finis di posisi atas klasemen. Termasuk lolos ke final Liga Europa. Bahkan pada awal musim ini, MU disebut-sebut memiliki materi pemain berkandidat juara.

Pergerakan di bursa transfer sangat menjanjikan. Plus sukses mendatangkan kembali Cristiano Ronaldo ke Old Trafford, yang diharapkan menjadi faktor pembeda. Namun perkembangan performa terakhir rupanya berkata lain.

Dan, kini sepengundur Solskjaer, manajemen menunjuk legenda lainnya, Michael Carrick sebagai pelatih sementara.

Sementara itu, Barca betul-betul kehilangan aura tiki-taka yang semula memancar sebagai wajah permainan sepak bola posesif nan indah dan mematikan. Kepergian sang raja, Lionel Messi ke Paris St Germain sebagai konsekuensi aturan plafon gaji di La Liga menyebabkan Barcelona kehilangan “ruh”.

Dari lantai transfer, kehadiran Memphis Depay memang menjanjikan, tetapi tidak dalam kualifikasi sebagai pengganti Messi. Sementara Sergio Aguero sebagai bomber pembunuh malah terlilit gangguan jantung sebelum membuktikan kontribusinya.

Sederet nama dalam barisan calon bintang Pasukan Camp Nou -- Pedri, Ansu Fati, Gavi -- rasanya masih membutuhkan waktu untuk berkembang. Dan, tentu membutuhkan seorang mentor yang tepat. Bukan Ronald Koeman-kah orangnya?

Ketika akhirnya Xavi Hernandez yang dipilih, artinya Barca menginginkan sosok yang selain paham filosofi Akademi La Masia, juga punya penghayatan ideologis tentang tiki-taka.

Manajemen Barcelola akhirnya menoleh lagi ke peran seorang legenda. Berbeda dari Manchester Merah yang nantinya diperkirakan memilih arsitek dari luar arena.

Laga-laga pada sisa musim akan memberi sajian bukti: keputusan mana yang lebih pas. Barcelona-kah, atau Setan Merah dengan varian tantangan masing-masing?

-- Amir Machmud NS, wartawan dan kolumnis sepak bola.

Baca juga: Menanti Tuah Stevie G Di Villa Park

Baca juga: Xavi dan “Proyek Ideologis” Tiki-Taka Barcelona

Baca juga: Ketika Ole Belum Juga Oke

Baca juga: Ansu Fati, “The Real New Messi”

Editor: Laila
    Bagikan  

Berita Terkait