“Maqam” Messi Memang Berbeda

Dunia Bola Amir Machmud —Rabu, 1 Dec 2021 15:00
    Bagikan  
“Maqam” Messi Memang Berbeda
“Maqam” Messi Memang Berbeda/ Pinterest

MATA-JATENG

Oleh: Amir Machmud NS

 

PASTIKANLAH, sudah sangat sulit menjajari capaian Lionel Messi. Suka atau tidak suka, dia memang punya “maqam” yang berbeda.

Ballon d’Or ketujuh yang diraihnya pada tahun ini makin menjauhkan posisinya dari Cristiano Ronaldo, sang seteru abadi.

Dia mengoleksi trofi individual tertinggi itu setelah sebelumnya enam kali membendaharakan pada 2009, 2010, 2011, 2012, 2015, 2019. Sementara Ronaldo membukukan pada 2008, 2013, 2014, 2016, dan 2017.

Dengan usia Ronaldo yang sudah 37, logikanya sulit untuk mendekati raihan Messi. Sebelum era persaingan dua maestro utama itu, pemain lain yang pernah mengumpulkan trofi itu paling banyak tiga kali hanya Johan Cruyff, Michael Platini, dan Marco van Basten.

Maka masihkan ada yang meragukan positioning Messi sebagai pemain terbesar dalam sejarah sepak bola?

Secara kualitatif, wajar kalau terus muncul pembandingan, terutama dengan Pele dan Diego Maradona yang memang telah merebut sejarah sebagai dua nama utama dalam dua era yang berbeda. Rivalitas Messi dengan Ronaldo selama satu dasawarsa juga selalu menyulut pertanyaan, siapa sebenarnya yang lebih baik?

Baca juga: Hendi Minta Upaya Pengendalian Gratifikasi Didukung Semua Pihak

Baca juga: Bontang Ingin Belajar Smart City ke Jateng, Ini Pesan Ganjar ke Pejabatnya

Dua nama utama, Neymar Junior dan Kylian Mbappe yang digadang-gadang menjadi penerus Messi dan Ronaldo, hingga tahun ini belum satu kali pun mendapatkan. Andai meraih pun, logikanya tak cukup lagi waktu bagi keduanya untuk mengoleksi sebanyak Messi. Dan, faktaya, di antara rentang rivalitas itu, hanya Luka Modric yang “menyela” pada 2018 berkat penampilan impresif bersama Kroasia di Piala Dunia pada tahun yang sama.

Ballon d’Or 2021 inikah indikator bahwa Leo Messi telah menahbiskan diri sebagai pemain terbesar sepanjang sejarah?

Realitasnya, hanya faktor Piala Dunia yang membedakan Messi dengan Diego Maradona, Pele, Zinedine Zidane, atau Ronaldo Luis Nazario. Mereka telah mengangkat piala itu, dan Messi belum. Dan, kesempatan itu tinggal di Piala Dunia Qatar, 2022 nanti.

Semua piala dan penghargaan sudah diperoleh bersama Barcelona. Untuk tim nasional Argentina mempersembahkan Copa America, Piala Dunia U-20, dan medali emas Olimpiade. Fakta inilah yang terus dijadikan alasan para pemuja Maradona dan Pele untuk mereduksi sehebat apa punpencapaian La Pulga.

 

Celah yang Terus Dicari

Membandingkan secara kualitatif memang tidak mudah. Bahkan bisa menjadi subjektif. Namun perbandingan kuantitatif, bagaimanapun harus mempertimbangkan konstelasi waktu, peta persaingan, dan perkembangan taktik bermain.

Nyatanya, dalam pembandingan dengan Pele dan Maradona, kapasitas teknis Messi yang seeksepsional apa pun, sering dihadapkan dengan realitas kompetensi kepemimpinannya. Messi dikritik bukan seorang kapten yang berwibawa, yang memberi pengaruh pembeda, baik di klub maupun tim nasional.

Namun, bagaimana dengan aspek lain tentang keunikan personalitas seorang manusia, yang melekat sebagai kekuatan Leo Messi?

Dia bagai dilahirkan dengan semua elemen pembeda. Kenaturalan skill-nya berbeda dari, misalnya Ronaldo yang diakui merupakan produk disiplin latihan yang spartan.

Baca juga: Ganjar; Tiap Tahun Kita Perjuangkan Upah Buruh, Tapi Lupa Gaji Guru Memprihatinkan

Baca juga: Sosialisasi Anti Kekerasan Menjadi Laki-laki yang Lebih Manusiawi.

Legenda Manchester United, Eric "King" Cantona, pernah menganalisis, “Keistimewaan Lionel Messi adalah nalurinya untuk bermain-main. Biarkanlah bersenang-senang, maka dia akan total mengeksplorasi kehebatannya”.

Cantona menyampaikan sisi lain tentang luapan kegembiraan bersepak bola srbagai sumber energi yang membangkitkan kelebihan-kelebihan Leo Messi. Inilah psikologi performa yang lebih didorong oleh ungkapan gembira, ekspresi alamiah seorang anak untuk bersenang-senang dengan bola.

Sumber energi itu, pada gilirannya mengantar untuk memberi pembeda yang tak terbaca. Dan, bukankah Messi berkembang seperti sekarang?

Kita bisa menyimak seperti apa kehebatan gocekan dribelnya, passing, penempatan posisi, seni penalti Panenka, hingga tendangan bebasnya.

Karena berkaki kidal, dia pernah dikritik tak mampu mencetak gol dengan kaki kanan. Pun tak punya kualitas heading yang baik. Pele pernah menyinyiri “kekurangan” ini. Namun nyatanya, gol menentukan dengan kaki kanan dan sundulan kepala juga dibendaharakan oleh Sang Messias. Dan, terjawab tuntaslah sinisme Pele.

Tak perlu lagi memperkuat fakta bahwa Leo Messi merupakan pemain terbaik dunia sepanjang masa. Sudah cukup terjawab bahwa dia memang salah satu di antara puncak-puncak bintang dengan kelebihan masing-masing.

Meskipun raihan Ballon d'Or 2021 menimbulkan reaksi kontroversi, namun fakta ini justru menegaskan Messi memang memiliki “maqam” yang berbeda.

 

-- Amir Machmud NS, wartawan, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah.

Baca juga: Barca dan MU dalam Kesamaan Dimensi Waktu

Baca juga: Menanti Tuah Stevie G Di Villa Park

Baca juga: Xavi dan “Proyek Ideologis” Tiki-Taka Barcelona

Baca juga: Ketika Ole Belum Juga Oke

Editor: Laila
    Bagikan  

Berita Terkait