Ralf Rangnick dan Pemulihan “Status MU”

Dunia Bola Amir Machmud —Rabu, 8 Dec 2021 12:40
    Bagikan  
 Ralf Rangnick dan  Pemulihan “Status MU”
Foto: Official Web Manchester United

Oleh: Amir Machmud NS

 

MATAJATENG - Di tangan Ralf Rangnick, para penggemar Manchester United menyerahkan harapan. Asa untuk memulihkan identitas, kehormatan, dan tradisi kejayaan. Hanya dikontrak enam bulan untuk menggantikan Ole Gunnar Solskjaer hingga akhir musim 2020-2021, pelatih asal Jerman itu dibebani tugas yang tidak ringan.

Berada di bawah papan atas klasemen sementara Liga Primer jelas bukan posisi yang nyaman. Permainan MU juga tidak meyakinkan, nyaris tanpa karakter sebagai klub penyandang tradisi prestasi liga dan punya jejak hebat di Eropa.

Dari David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, hingga Solskjaer yang menggantikan Aex Ferguson sejak 2013, belum satu pun yang memenuhi ekspektasi mengembalikan Setan Merah ke “maqam” yang semestinya.

Baca juga: MotoGP: Pembalap Spanyol Maverick Vinales Membuat Awal Kemenangan untuk 2021 di GP Qatar

Benarkah Ralf Rangnick adalah orangnya?

Setiap pergantian pelatih adalah momentum harapan bagi sebuah klub. Persoalan utama MU sekarang adalah pemulihan “status kebesaran” Theater of Dream, Setan Merah, dan Fergie Time.

Tiga elemen itu lekat sebagai identitas MU pada masa kejayaannya. Kombinasi karakter yang menguatkan realitas betapa Manchester Merah memang “berbeda”. Karakter-karakter itu ber-chemistry sebagai filosofi, identitas, yang dalam ekspresi kompetisi bisa dirumuskan dengan frasa “membuat rontok nyali lawan”.

Stadion Old Trafford yang berlabel “Teater Impian” adalah “tempat bersenang-senang” para pemain MU. Dengan kata lain, inilah “neraka” bagi klub mana pun yang bertandang. Sedangkan Setan Merah adalah jejuluk yang memberi aura lebih dari kelaziman performa sebuah tim sepak bola.

Apa pula dengan “Fergie Time”? Istilah ini melukiskan etos kerja tentang setiap menit yang bermakna. Tak ada kata kalah sebelum laga betul-betul tuntas. Kebiasaan “The Godfather” Alex Ferguson menengok arloji ketika anak-anak MU dalam posisi tertinggal skor atau belum mampu mencetak gol, sering disusul oleh hasil yang ditunggu. Menengok jam seolah-olah isyarat akan ada keajaiban yang terjadi

Akan tetapi, kini Old Trafford bukan lagi arena yang berkarisma. Lawan-lawan tidak diliputi atmosfer “kalah sebelum berlaga”. Musim ini, Theater of Dream mencatat sejumlah kekalahan yang menghukum MU. Kata “stadion keramat”, “altar suci”, “lapangan angker”, atau “tempat mengunci poin” seakan-akan menguap.

Baca juga: Ansu Fati, “The Real New Messi”

Julukan Red Devils juga tidak lagi memberi suntikan kekuatan seperti semula. Sedangkan “jiwa” Fergie Time tak dimiliki oleh para manajer pasca-Sir Alex.

Sampailah kini, akhirnya MU menyambut Ralf Rangnick, setelah sebelumya beredar rumor: siapa di antara Antonio Conte, Zinedine Zidane, Laurent Blanc, atau Ernesto Valverde yang bakal merapat ke Old Trafford.

Kini semua menunggu: spirit kerja seperti apa, karakter dan identitas bagaimana yang terproyeksikan untuk membawa perubahan bagi MU? Mampukah pelatih asal Jerman itu membawa aura perubahan, menerbitkan angin kebangkitan?

Itulah yang kini dibutuhkan MU, yakni menemukan kembali identitasnya sebagai Setan Merah, menegaskan kembali Old Trafford sebagai Teater Impian. Juga menghadirkan “Etos Rangnick” sebagai kekuatan yang mencahayai Liga Primer.

Klub-klub pesaing punya identitas masing-masing. Liverpool dengan gegenpressing Juergen Klopp. Manchester City dengan ideologi tiki-taka ala Pep Guardiola. Chelsea kini lekat dengan sentuhan kolektivitas Thomas Tuchel. Leicester City stabil di bawah komando taktik Brendan Rodgers. Tottenham Hotspur sedang berjuang memulihkan spirit dalam besutan Antonio Conte, serta Arsenal mengalami pasang naik di bawah Mikael Arteta.

Ketika maestro sekaliber Louis Van Gaal dan Jose Mourinho pun tidak berhasil menegakkan status identitas Manchester Merah, siapa pula yang bakal diharapkan?

Realitasnya, sejak 2013, setelah Alex Ferguson pensiun MU bukan lagi pasukan dengan kepribadian kolektif sekaligus keunggulan personalitas.

Baca juga: Xavi dan “Proyek Ideologis” Tiki-Taka Barcelona

“Profesor” Rangnick

Sebutan “profesor” untuk Ralf Rangnick awalnya adalah semacam ejekan, lantaran dia dikenal sebagai “pelatih pemikir” atau “konseptor”. Namun setelah ide taktiknya banyak diadopsi, panggilan itu menggambarkan dia memang punya kelebihan filosofis dalam karakter permainan.

Jejak kepelatihannya belum meledak. Dia lebih menonjol dalam manajemen direktorat kepelatihan sebuah klub. Namun Rangnick diakui sebagai “guru besar tidak langsung” para pelatih top: dari Klopp, Tuchel, hingga Julian Nagelsmann. Bersama RB Leipzig, Rangnick mengeksperimenkan filosofinya.

Ketiga pelatih itu mengadopsi gegenpressing ala Rangnick, permainan menekan yang menuntut semua pemain bergerak mobil menyongsong bola dari pemain lawan terdekat. Garis pertahanan tinggi seperti gaya Liverpool sekarang adalah salah satu produk adopsi “ilmu” Rangnick. Pada 1984, dia mulai mengolah pemikiran itu, setelah terinspirasi oleh taktik pelatih legendaris Uni Soviet, Valery Lobanovsky yang menukangi Dynamo Kyiv.

Baca juga: Barca dan MU dalam Kesamaan Dimensi Waktu

Bersama MU, dia jelas butuh waktu. Entah bagaimana nanti ketika dia hanya dikontrak selama enam. Tentulah tidak objektif menilai kinerjanya hanya dari beberapa pekan pertandingan. Padahal Rangtnick harus bekerja keras mengubah kebiasaan, meracik adonan, dan melakukan pendekatan yang tepat untuk para pemain dengan kualifikasi bintang.

Kini keluarga besar MU menyambut momen pergantian itu sebagai harapan untuk menemukan kembali karakter dan identitas klub.

 

-- Amir Machmud NS, wartawan senior dan kolumnis sepak bola.

Editor: Ilham
    Bagikan  

Berita Terkait