Sosialisasi Anti Kekerasan Menjadi Laki-laki yang Lebih Manusiawi.

News —Rabu, 24 Nov 2021 15:36
    Bagikan  
Sosialisasi Anti Kekerasan Menjadi Laki-laki yang Lebih Manusiawi.
Peserta sosialisasi bergambar bersama sebelum penutupan (hm)/ Fto: istimewa

SEMARANG, MATAJATENG

Perlu partisipasi laki-laki dalam perlindungan perempuan dan anak. Laki-laki dapat berbagi beban dan tanggung jawab dengan perempuan “Menjadi laki-laki yang lebih manusiawi. Menjadi diri sendiri seperti yang diinginkan, akan lebih merasa bahagia, sehat, memiliki usia harapan hidup lebih lama, memiliki kedekatan emosional dan hubungan yang lebih dalam serta bermakna dengan orang yang disayang. Demikian dikatakan oleh Nur Hasyim dari Aliansi Laki-laki Baru dalam acara Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Senin (22 Nov) di Hotel Whizt. Acara yang berlangsung pada 22-23 Nov, diikuti oleh 50 Lembaga Perwakilan Masyarakat Kelurahan (LPMK) dan 50 Ketua RW kesemuanya laki-laki, perwakilan dari 16 Kecamatan di Semarang.

Nur Hasyim yang dosen FISIP UIN Walisongo menambahkan, laki-laki sebagai suami, ayah, perlu literasi emosi, mempraktikkan komunikasi positip, belajar dan praktik tentang persetujuan, terlibat dalam pengasuhan anak, dan berbagi peran, tanggung jawab domestik dan publik. Untuk itu perlu adanya penataan ulang dan pembagian kekuasaan dalam keluarga, mempromosikan kepemimpinan perempuan, mempromosikan kesetaraan, keadilan , anti kekerasan dalam bentuk norma sosial baru, serta aktif kebijakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Baca juga: Resep Minuman: Cara Membuat Lychee Tea Cream Cheese Segar

Baca juga: Cerita di Jalur Tengkorak Wonosobo, Konon Sering Terjadi Kecelakaan Mistis


Persoalan Serius

Narasumber Tsaniatus Solihah SE mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan serius yang harus kita perhatikan. Baik kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran. Kekerasan itu terjadi mulai dari lingkungan keluarga, sekolah atau di tempat umum. Berbagai upaya pencegahan sudah dilakukan tetapi kasus kekerasan ini masih tergolong cukup tinggi.

Menurut direktur pendidikan Yayasan Anantaka ini, mengutip data DP3A Kota Semarang, ada 145 kasus kekerasan terhadap perempuan dari total 164 kasus yang tercatat, dan 107 kasus diantaranya Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jumlah ini relatif tinggi dan sangat jauh dibandingkan dengan korban laki-laki. Artinya perempuan memiliki kerentanan lebih untuk menjadi korban.

Kata Tsaniatus Salihah yang juga ketua Forum Kesetaraan dan Keadilan Gender (FKKG) Jateng, pandemi Covid 19 memaksa untuk beraktivitas dari rumah. Anak-anak belajar di rumah begitu juga orang tua bekerja dari rumah, hal ini menjadikan intensitas bertemu cukup tinggi. Intensitas pertemuan ini dibebani oleh beban baru yaitu mendampingi anak belajar, mengatasi kebosanan anak-anak, menjaga imunitas anak untuk pencegahan Covid 19 . “Tidak jarang dalam merespon anak ketika berperilaku negatif, justru melakukan kekerasan. “ Kasus KDRT seperti fenomena gunung es, banyak yang tidak dilaporkan karena karena korban tidak berdaya. diancam, takut kehilangan nafkah, dianggap sebagai aib keluarga,tandasnya.

Baca juga: Barca dan MU dalam Kesamaan Dimensi Waktu

Baca juga: Food Recipes: How To Make Baked Custard Pudding Easily


Edukasi Laki-laki

Menurut Salihah kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang ini merupakan respon untuk mengatasi banyaknya kekerasan yang terjadi . Di sisi lain memberikan ruang kepada laki-laki untuk mendapatkan edukasi tentang perlindungan perempuan dan anak, sehingga mereka diharapkan bisa berpartisipasi maksimal.

Sudah banyak program pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diluncurkan, mulai dari sosialisasi sampai pada kampanye publik yang diperingati setiap tahun yaitu 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Selama ini program lebih banyak ditujukan untuk perempuan. Edukasi terhadap laki-laki masih sangat minim, padahal kebanyakan korban adalah perempuan pelakunya laki-laki.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua TP PKK Kota Semarang Kriseptiana Hendrar Prihadi yang memberikan apresiasi atas penyelenggaraan acara. “Saya berharap ini akan menjadi gerakan yang masif untuk melibatkan laki-laki dalam perlindungan perempuan dan anak di Kota Semarang. Tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan, baik sesama laki-laki atau ke perempuan dan anak sehingga kasus kekerasan akan dapat terminimalisiasi,” kata istri walikota itu.

Terpisah, kepala DP3A Kota Semarang Drs. Mukhamad Khadhik,MSi mengatakan bahwa DP3A Kota Semarang akan terus menggandeng laki-laki untuk terlibat aktif menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak. (Humaini)

Baca juga: Unwahas Kerja Sama dengan Pemkab Blora

Baca juga: Kota Semarang Tekan Kematian Ibu dan Stunting

Baca juga: Kabupaten Wonosobo Menjadi Juara Umum Festival Tunas Bahasa Ibu Provinsi Jawa Tengah

Baca juga: Resmikan Taman Hasil Swadaya, Hendi Kembali Singgung Pentingnya Partisipasi Warga

Editor: Laila
    Bagikan  

Berita Terkait