Kopi, Tiba-tiba Tak Kukenali

Sketsa Rasa —Sabtu, 30 Oct 2021 10:12
    Bagikan  
Kopi, Tiba-tiba Tak Kukenali
Kopi, Tiba-tiba Tak Kukenali/ Pinterest

Oleh: Amir Machmud NS


KOPI, TIBA-TIBA TAK KUKENALI

seteguk kopi dari cangkir luka
membawa wajah yang berbeda
kuaduk lagi dengan putaran tanpa jiwa
mendadak seperti beku telaga

misteri apakah yang hadir mencibir
di bibir cangkir
serbuk wangi mengerak kasar
sia-sia kupaksa indera mengenali

serta merta kubuang hasrat
memalingkan kepul birahi
ke senyap tubir cangkir
o, telaga yang dingin mendangkal

tiba-tiba aku merasa terabaikan
uap kopi mengalunkan musik perang
pekatnya menyembunyikan licik rencana
keraknya menyisakan aura permusuhan
sia-sia aku mengaduknya
dengan cinta.
(2020)

Baca juga: Geliatkan Ekonomi, Semargres Kembali Digelar Sebulan Penuh

Baca juga: Spending Time in Eling Bening with Enchanting Natural Panorama


KAU TAKLUKKAN KOPI

cukupkah kau merasa gagah
hanya karena mampu menaklukkan secangkir kopi
dalam seteguk perkasa
seolah-olah ia monster jantan
yang menyimpan tantangan

kopi sejatikah itu yang terkalahkan di kilau hitam
apakah tak kau lihat mata raksasa menatap kejam
ada uap menggeram
dengan kepul menyengat tajam
kau libas dengan seruput hasrat

kemenangankah yang kau dapat dari teguk ke teguk
kegagahan kau raih dari nikmat hirup ke hirup
meninggalkan kerak dangkal di cangkir lekak
lalu napas lega kau hela
mereguk cinta tanpa sisa

tahukah kau
cangkir sepi itu menertawakanmu
yang berlalu dengan langkah kemenangan.
(2020)

Baca juga: Ganjar; Kalau Ada Kecurangan Tes CPNS di Jateng, Tidak Ada Ampun!

Baca juga: Resep Makanan: Cara Membuat Dessert Banana Cake Lezat


WANGI WAKTU KOPI

kau akan selalu meminta kembali
si bedebah kopi menjadi teman sepi
setegas kau mencoba meninggalkan
selekas pula kau memanggilnya lagi

kau akan selalu meronta tanpa dia
menggapai rindu dengan misteri uapnya
tak kau sadarikah dia meniupkan tenaga
menyusun otot hidup menatap hari-hari

yakinilah kau akan merayunya lagi
mengundang pikiran tentang kesegaran
kau kira mudah mengusung gairah
tanpa menabur manteranya
kau kira bisa melangkah ringan
tanpa ritus tafakur
menyatukan bibirmu ke bibir cangkir?

dia membawamu bertualang
ke ruang imajinasi tentang keyakinan
mengarungi iman ideologi
: kopi itu wangi hati
kopi itu wangi pagi
kopi itu wangi waktu
yang tak bisa kau batasi.
(2020)


-- Tiga puisi di atas dinukil dari antologi "Kematian, Setiap Kali" (2021) sebagai kumpulan puisi Amir Machmud NS di samping "Tembang Kegelisahan" (2020), "Percakapan dengan Candi" (2021), dan "Dari Peradaban Gunadarma" (2021).
Sajak-sajak wartawan senior Semarang ini juga tersebar di sejumlah antologi bersama dan media.

Baca juga: Percakapan Mata

Baca juga: Lewat Kearifan yang Terbaca

Baca juga: Api Dari Kuburku

Baca juga: Sesisa cawan Kosong

Editor: Laila
    Bagikan  

Berita Terkait