Lalu Bayangkanlah Malam

Sketsa Rasa —Sabtu, 20 Nov 2021 09:58
    Bagikan  
Lalu Bayangkanlah Malam
Lalu Bayangkanlah Malam/ Pinterest

Oleh: Amir Machmud NS


DI RUANG PURBA

terpekur dalam hening sejuta rasa
di pelataran hijau Candi Sambisari
kudengar percakapan-percakapan
: dan aku tersedot ke ruang purba
menjelajahi konfigurasi tanpa tepi

selapang itukah taman nirwana
selonggar itu napas kulepas
sesegar itu udara kuhirup
sesejuk itu angin kucecap
seelok itu langit kutatap
kusapa semua dengan lega luar biasa

hening yang membahagiakan
senyap yang memabukkan
: aku makin tersedot ke bening swarga
menatap mata-mata yang lembut
menemui wajah-wajah asih
bercengkerama dengan hati-hati bersih

: aku enggan kembali ke kegaduhan fana.
(22-03-2021)

Baca juga: Ikuti Tips Berikut Agar Mudah Menghafal Al-Quran

Baca juga: Ayanaz Gedongsongo, a Tourist Destination With an Instagramable Concept



LALU BAYANGKANLAH MALAM

lalu bayangkanlah malam
menimbun ribuan kisah
tak satu pun tak kusimak

lalu hidangkanlah sejarah
sambung-menyambung peradaban
tak sehelai lontar pun tak kunyanyikan

dalam ronta kekaguman
zaman demi zaman menyimpan
seteguk para maharaja bersulang
seteguk pula empu-empu menahan
dalam tirakat karya cipta

tak cuma ceritera malam
setiap tiba terang
dalam musim tak berbilang
mahakarya tegak dalam wujudnya
mereka menera jiwa
dengan warisan makna.
(24-03-2021)

Baca juga: Perjuangkan Nasib Buruh, Ganjar Kaji Penetapan UMP Ganda

Baca juga: Di Bawah Guyuran Hujan, Ganjar Apel Siap Siaga Bencana


MEMBERSIT HADIR DEWI TARA

kopi sesempurna ini melengkapi
narasi kita rentang candi
betapa puitis malam
bertabur diksi melayang-layang di udara sunyi

atau ia hanya lewat dengan kepul wangi
sesaat saja
lalu menguap ke bebatu candi?

dari seduh ke seduh
tertiup aroma narasi malam
membersit hadir Dewi Tara
karismanya tak terkata
jelitanya tak terwarta
di secangkir wangi sepintas kubayangkan
melenggok dalam bait-bait yang kurakit

: kupikir ia sedang turun ke bumi
menyiangi kehidupan
dengan bijak sajak-sajak.
(2021)



-- Puisi-puisi di atas merupakan bagian dari antologi Dari Peradaban Gunadarma, karya terbaru Amir Machmud NS pada 2021. Penyair dan wartawan yang tinggal di Semarang ini juga telah menerbitkan Tembang Kegelisahan (2020), Percakapan dengan Candi (2021), Kematian, Setiap Kali (2021).
Puisi-puisi penulis 21 buku jurnalistik, biografi tokoh, dan sastra ini tersebar di banyak media dan antologi bersama.

Baca juga: Sepagi Inikah Datang Gelisah

Baca juga: Simpang Bijak Empu Manuku

Baca juga: Kopi, Tiba-tiba Tak Kukenali

Baca juga: Percakapan Mata

Editor: Laila
    Bagikan  

Berita Terkait